Selasa, 19 Juni 2012

KETEGARAN DAN KEULETAN NAEN, SOPIR POMPONG



Oleh ; Hindun
Walau hari terasa panas ia tetap semangat untuk bekerja, dengan semangat dan cekatan Naen bapak tua yang berumur 72 tahun menjalankan pompong miliknya, mengantar dan menjemput penumpang  di Plantar 1 Tanjungpinang / pelabuhan bagi penumpang yang akan menyebrang ke Senggrang maupun  Kampung Bugis, melayani dan mengantar penumpang sampai ke tempat tujuan adalah pekerjaan Naen. Disela-sela aktivitanya Sabtu (12/5), Pak Naen  sapaan akrabnya menyambut kami dengan senang hati, rambutnya yang memutih jelas tampak disela-sela topinya, ciri khas Pak Naen ia selalu mengenakan topi, namun wajah  tuanya tak mampu menutupi usianya yang sudah lanjut. Ketegaran dan keuletan Pak Naen dalam bekerja membuat teman-teman disekitarnya senang berteman dengan Pak Naen, selain ia sebagai orang yang dituakan, ia juga sebagai orang yang patut diteladani, demikian yang disebutkan oleh teman-teman seprofesi Pak Naen.
 “Saya bekerja menjalankan pekerjaan ini sejak saya berumur 50 tahun waktu itu  saya merantau dari tempat asal saya Tembilahan, dan sejak berdrinya Bestari di Tanjungpinang sekitar tahun 1990 an“ Bapak Naen  menjelaskan dengan senyum ramahnya. “Saya tidak ada pekerjaan lain. Semua tetangga saya sibuk bekerja, maka inilah bagian kecil saya.” Pak Naen menambahkan ucapannya.

Hujan dan panas sudah biasa dilalui oleh Pak Naen, namun tak sedkitpun Pak Naen mengeluh dalam mengerjakan tugasnya sebagai pembawa pompong,  mengakui bahwa bekerja pembawa pompong  pada usia yang mulai senja beresiko besar, demi istri dan 3 orang cucu angkatnya ia rela bekerja keras, asal  cucu-cucunya bahagia menurutnya.

Pak Nean yang asli dan lahir di Tembilahan kelahiran tahun 1940 ini, menyadari pendapatannya semakin hari semakin berkurang, karena itu ia mengubah ukuran pompongnya, dulu pompong Pak Naen berukuran besar, karena masi banyak penumpang yang menggunakan jasa-jasanya, seiring perjalanan waktu keadaan pun berubah, sekarang pompong yang dipakai oleh Pak Naen tidak besar lagi, disamping penumpang yang semakin sedikit, boros sekali bensin yang dipakai pompong besar, bensin yang di beli Pak Naen dari pengecer botalan tak cukup 1 botol besar aqua, berbeda dengan pompong kecil akan lebih hemat, setidaknya dangan 1 botol aqua masih bisa mengantar jemput penumpang. Berkurangya pendapatan Pak Naen semakin dirasakan, kalau dulu dalam sehari bisa mencapai ratusan ribu dalam sehari, tapi sekarang dalam sehari paling tinggi mendapatkan 50 ribu imbuhnya
Kendala
Umumnya kendala Pak  Nean tak jauh berbeda dengan para pembawa pompong lainnya, penyebab kurangnya penumpang karena jalan darat dari Senggrang maupun Kampung Bugis sudah sering digunakan orang umum, kebanyakan semua masyarakat Senggrang  maupun Kampung Bugis sudah memiliki kendaraan bermotor roda dua semua, dan selain itu para pembawa pompong juga sudah banyak sekali, sehingga penumpang terkadang  memilih-milih pompong yang bagus untuk dinaiki oleh penumpang,  saat ini hanya mengharapkan pelanggan yang lama-lama saja, karena pelanggan lama tetap mencari Pak Naen untuk dapat mengantarkan penumpang ke seberang, demikian Pak Naen mengatakan dengan polosnya. Pekerjaan membawa pompong juga dipengaruhi oleh cuaca, dan surut pasang air laut, karena itu jadwal khusus bagi Pak Naen dapat dikatakan tidak terjadwal. Apabila air laut surut jauh maka sianglah ia baru berangkat kerja, dan ketika hujan terlalu deras, ia juga enggan bekerja, lantran penumpang banyak yang takut juga menyebrang dengan cuaca seperti itu, kata Pak Naen.

Suka dan Duka
Pak Naen yang memiliki 2 orang anak dan 3 orang cucu angkat, mengisahkan perasaan sukanya adalah ketika membawa penumpang yang belum pernah dikenal, akan mempunyai kenalan baru, dan ramainya penumpang membuat Pak Naen senang, misalnya ada acara-acara tertentu di Senggarang. Selain itu yang membuat Pak Naen bisa mendapatkan penghasilan lebih,  ketika ada Kapal Perintis datang, karena banyak barang yang  harus diantarkan ke tepian, dan penghasilan ini sangat lumayan. Berbeda sekali dengan keseharian yang semakin hari semakin sepi, tidak hanya itu menunggu penumpang harus sampai penuh untuk 1 pompong baru diantar, ini akan jauh lebih untung dan tidak rugi,  memang harus benar-benar sabar menunggu penumpang agar pekerjaan ini dapat hasil dan tak sia-sia, kata Pak Naen, mengingat masa dukanya pada saat bekerja adalah saat menunggu penumpang, dan pernah juga penumpang marah dan kesal karena harus menunggu pompong penuh, sehingga terkadang walau hanya 1 orang tetap harus diantarkan, namun penumpang bisanya membayar lebih, sebesar 10 ribu, beda dengan target biasanya, kalau membawa penumpang dengan jumlah lebih 1 orang dan pompong penuh dengan penumpang, biasanya dikenakan biaya sebesar 4 ribu sampai 5 ribu, sedangkan untuk anak-anak sekolah ongkos dikenakan 2 ribu saja. Dan hal lebih menyakitkan pernah juga penumpang tidak bayar, karena orang tersebut benar-benar tidak punya ongkos. Namun, alhamdulillah setiap harinya ada saja penumpang yang naek pompongnya, paling tidak 1 atau 2 orang.

Bagi Pak Naen yang hidup sehari-harinya dengan istrinya Sakdiah ini, tak pernah merasa kecewa dengan pekerjaan sehari-harinya ini,  karena tanggung jawab terhadap istri dan cucunya masih menjadi tanggungannya, sedangkan anak-anaknya berada di Batam dan Tarempa, meskipun anak-anaknya sudah besar, tidak mungkin juga Pak Naen harus hidup dengan belas kasihan anak-anak, terlebih sekali anak-anak Pak Naen meskipun anak-anak sudah menikah semua tapi bukan keluarga yang berlebih, sama saja dengan saya, pas-pasan  Pak Naen menceritakan.
Bagi Pak Naen yang tingganya di Kampung Bugis, rasa tanggung  jawab Pak Naen ini membuat Pak Naen harus setiap hari bekerja, dan harus dapat uang setidak-tidaknya 50 ribu perhari, karena ia membesarkan cucu angkatnya dengan memberi jajan pada cucunya sekitar 10 ribu samapai 15 ribu perharinya, juga memenuhi kebutuhan sehari-hari di rumah, karena tidak ada lagi kerja sampingan, istrinya Sakdiah sehari-harinya hanya sebagai ibu rumah tangga biasa yang menjaga dan membesarkan ke 3 cucu-cucunya. Cucu yang yang pertama sudah tamat sekolah, sedangkan cucunya yang ke2 dan ke 3 masih duduk di SMP 11 Kampung Bugis.
Sebenarnya Pak Naen dengan usianya yang sudah senja ini harusnya banyak istirahat, namun motivasinya untuk membahagiakan cucu-cucu angkatnya membuat ia selalu kuat dan tegar, cucu-cucu angkat Pak Naen semula merupakan anak dari tetangga-tetangga Pak Naen, Pak Naen yang sudah merasa tua merasa sepi sekali, karena itu ia membesarkan cucu-cucu angkatnya dengan tekat harus kuat dan mampu membiayai kehidupan sehari-hari, dan  karena itu Pak Naen tak pernah merasa mundur untuk berhenti bekerja, dengan usia 72 tahun ia tetap mau bekerja keras.

Harapan
Bagi Pak Naen, kelengkapan asesoris bagi pompong perlu, pernah diberi bantuan oleh pemerintah PEMKO dari Ibu Wali Kota berupa bantuan pelampung, untuk melengkapi perlengkapan pompon, namun itu semua tidak cukup, dan pernah pemerintah juga akan memberikan bantuan dana berupa uang Cash, tapi sayang sampai saat ini belum adanya kepastian, Pak Naen sangat berharap pemerintah dapat memberi bantuan kepada kami, bisa berupa uang Cash karena dengan uang itu bisa saja kami belikan untuk membenahi fasilitas pompong kami, dan bahkan kami bisa beli yang baru lagi, karena jujur pompong kami sudah layak digantikan, Pak Naen mengharpkan untuk waktu kedepannya, agar pemerintah dapat memperhatikan kami, ujarnya penuh harap.  Hindun

Tidak ada komentar:

Posting Komentar