Selasa, 19 Juni 2012

AMARAH RAKSASA


Oleh : Hindun

LATAR PANGGUG:
Bagian Pertama :
DI HUTAN YANG LEBAT , DI LUAR GUA  YANG DITUMBUHI POHON-POHON  YANG BESAR DAN TINGGI-TINGGI.

DIALOG :
Raksasa                            : Huaha….ha….ha…. , kawasan ini adalah milikku, aku adalah   raksasa pemilik  gua, dan hutan-hutan di sini!
                                                (Raksasa tertawa menyeringai, sehingga kelihatan giginya yang tajam,  lalu melangkah masuk kedalam guanya)

Satria                             :       Wahai Raksasa ………….
                                            (Satria memanggil sambil berteriak dengan kedua belah tangan dimuka , layaknya seseorang yang memanggil)
                                            Adakah engkau d idalam Gua, wahai raksasa ?
                                            (Satria melangkah dan memasuki Gua yang gelap itu)
                                            (dalam hati Satria bergumam)
                                            Apakah Raksasa sedang tidur di dalam?
Raksasa                    :       Siapa  yang teriak-teriak , memekakkan telingaku saja, (Raksasa berkata dalam hatinya)
                                             
LATAR PANGGUNG
Bagian Ke-Dua
DISEBUAH GUA YANG GELAP DAN PENGAP
    Raksasa                        :   Ya, aku ada di dalam !, Kau itu Satria ?, kemarilah Satria, aku menunggumu sejak tadi .
                                            (sambill menganggukkan kepalanya yang berambut lebat dan kriting itu)

Satria                             :       Ada apa engkau memanggilku, wahai raksasa ?, sangat mustahakkah?, sehingga engkau mengundangku untuk datang ke gua mu ini?
                                                (sambil duduk di batu besar pas sebelah Raksasa)

Raksasa                            :  Satria sahabatku, ternyata Raja hendak merebut tanah milikku ini, aku akan di usirnya….
                                                (nada berlahan raksasa, dengtan mata sendunya menatap Satria)

Satria                                 :   Ya ampun, benarkah Raja akan segera mengusirmu?.
                                            (Satria menggeleng-geleng kepalanya tanda tak bersetuju akan kehendak Raja)
                                            Engkau sudah lama tinggal di sini Raksasa!, yang kutahu tanah ini sudah dihuni oleh nenek moyangmu  beratus tahun lamanya, mengapa Raja sama sekali tidak memikirkan dan menimbangkan hal itu, kasihan kau Sahabtku.
                                            (Satria memandang raksasa dengan penuh rasa iba, sambil memegang raksasa disampingnya, dan terlihat air muka Satria yang turut kecewa akan keputusan Raja)

Raksasa                            :   Kau adalah satu-satunya sahabatku, bisakah engkau menolongku, Satria ?
                                                (sambil mengerlipkan mata lebarnya, dan hibasan rambutnya, raksasa berkata dengan raut wajah yang serius, memandangi Satria)

Satria                                 :   Apa yang mampu aku bantu untukmu?, wahai sahabtku Raksasa ?
                                                (sambil memegang tangan raksasa yang besar, Satria meyakinkan pada Raksasa)

Raksasa                            :   Katakanlah kepada Raja, bahwa aku seorang Raksasa, tidak akan meninggalkan tanah warisan nenek moyangku walau selangkah pun, biar pun harus nyawaku  sebagai  taruhannya.
                                                (Tangan raksasa memegang dadanya yang bidang, tanda kemarahnnya)

Satria                                 :   Baiklah Sahabatku, Aku akan menghadap Raja esok, dan menyampaikan pesanmu, Aku akan berusaha meyakinkan Raja, untuk membatalkan niatnya yan g akan mengambil tanah kepunyaanmu ini, sabarlah engkau Raksasa  dalam menantikan aku kembali, dan aku akan secepatnya kembali. Aku pergi dulu sahabatku, doakan agar aku berhasil.
                                                (dengan menatap Raksasa, Satria  pun mengangguk dan mengacungkan tangannya, dan melangkah keluar dari gua)

Raksasa                            :   Hari sudah semakin larut, semoga Sahabatku Satria, mampu meyakinkan Raja
                                                (dengan mengusap-ngusap wajahny, raksasa penuh harapan pada  Satria)
LATAR PANGGUNG
Bagian Ke-Tiga
DI SINGGASANA  RAJA SYAHIR  DUDUK  DI KAWAL OLEH 5 PANGLIMA KERAJAAN.
Panglima Perang          : Ampun tuanku, beribu-ribu ampun, hamba datang menghadap, ada hajat nak  beta sampaikan ke hadapan Baginda Raja Syahir yang hamba hormati.
                                                (Sambil setengah merunduk dan bersembah di hadapan Raja)
Raja Shahir                      :  Ada apa gerangan yang hendak awak cakapkan wahai Panglima Perang?
                                                (Sambil  tangan Raja mengacungkan tangannya mengarahkan ke Panglima Perang.
Panglima Perang          :   Satria sahabat karib Raksa, hendak menghadapmu Raja.
Raja SYahir                      : Suruh dia menghadap!
Panglima Perang          : Siap, hamba akan segera menjemput Satria
                                                (sambil meniggalkan Raja)
Satria                                 : Ampun Baginda Raja, Hamba datang menghadap.
Raja Syahir                      :   Ada apa awak ke mari?
Satria                                 :   Hamba menyampaikan penolakan kehendakmu keatas perintahmu pada sahabat hamba Raksasa, Raksasa tidak ingin memenuhi kehendakmu.
Raja Syahir                      :   Tidak bisa, itu adalah kehendak hamba yang harus terlaksanakan,  Zaman ini Zaman Manusia, bukan seperti dulu kala, bagaimana panglima-panglimaku semuanya, setujukah kalian untuk mendukung beta?
Panglima Perang
Dan ke-4 Panglima       :   Kami setuju baginda Raja, jika engkau berkehendak kami tetap mendukung penuh.
                                                (Semua panglima menjawab secara serentak)

Satria                                 :   Baiklah, akan hamba sampaikan nanti Raja, hamba pamit.
                                                (Satria pun berlalu meningglkan istana kerajaan)
                                             
LATAR PANGGUNG
Bagian Ke-empat
DI  LUAR GUA DAN DI DALAM GUA
Satria                                 :   Sahabatku Raksasa
                                                (Setengah teriak, Satria pun memasuki  gua Raksasa)
                                                Sahabatku, aku telahpun menyampaikan  pesanmu, tapi… ternyata Raja tetap pada pendiriannya. Raja tetap ingin mengusirmu, kerena katanya”zaman sekarang, bukan lagi zaman Raksasa, melainkan zaman manusia”. Esok atau lusa Raja akan segera kemari, berserta prjajuritnya
                                                (Satria berkata dengan nada cemas, dan kasihan akan nasib sahabarnya).

Raksasa                            :   Apa maksudmu Raja akan menyerang dan membunuhku Satria?
                                                (Raksasa bertanya sambil setengah menundukkan kepalanya)

Satria                                 :   Hem………., Bigitulah kehendak Raja.
                                                (menunduk lesuh)
Raksasa                            :   Seumur hidupku, belum pernah aku berperang dengan sesia pun, demi mempertahankan hakku, saat ku kini untuk melawan siapa pun yang berani mengambil hakku, demi hakku yang akan diinjak-injak aku rela melawan siapapun, karena aku bukanlah pengecut.
    (wajahnya tampak merah menahan marahnya dan ia mengangkat kedua belah tangannya menghantamkan ke gumpalan batu)

LATAR PANGGUNG
Bagian Ke-lima
DIHAMPARAN PADANG RUMPUT, DITENGAH-TENGAH LAPANGAN YANG  SANGAT LUAS MEMBENTAG.

Raksasa                            :       Satria, aku adalah raksasa yang kuat, aku kebal terhadap senjata apapun, kelemahanku terletak dibagian dada kiriku ini, kau saja yang tahu hal ini, karena kau adalah sahabatku  yang aku sayangi.
                                                    (sambil mengenakan pakaian dari kulit tebal)

Satria                                 :       Berhati-hatilah engkau sahabatku.
                                                (Satria memejamkan mata, menandakan  keresahan hatinya)

Raja                                   :       Bersiap prajurit-prajurit dan panglimaku…….serang………….!
                                                    (Raja berteriak menitahkan perintahnya, sambil memegang  gagang keris yang ada dipinggangnya)

Raksasa                            :       Maju kalian semua prajurit bodoh………….!
                                                    (Raksasa berteriak dan berlari di tengah-tengah  prajurit yang telah siap dengan panah dan tombaknya)
Prajurit                             :       ah………………….ah,
                                                     (prajurit terinjak-injak dan Raksasa mengangkat beberapa prajurit dan melemparkan  kesana-kemari di lapangan iitu)

Raksasa                            :       Ayo maju kalian semuanya, aku akan melayani kalian…………, aku bukanlah raksasa yang pengecut.
                                                     (dengan langkahnya ia berjalan sambil menggoyangkan tangannya)

Panglima Perang          :       Ayo……… lawan terus, jangan takut ……………..
                                                    (teriak Panglima Perang  yang penuh dengan simbahan  darah)

Raja                                   :       Mengapa tak satu pun prajurit dan Panglimaku ku yang mampu membunuhnya…?
                                                    Kini saatnya aku akan menghabisimu raksasa jelek, dengan tombak dan keris ini kau akan binasa………..!
                                                    (sambil berteriak dan berpacu dengan kudanya, Raja murka, tombak dan kerisnyapun dicabutnya dari pinggangnya menikam dada Raksasa , Usaha Raja sia-sia, Raja turut tewas setelah dihempaskan oleh Raksasa di atas tanah di tumupukan batu )

Raksasa                            :       Siapa yang berani lagi menantang dan melawanku …..
                                                    (teriak Raksasa  yang masih saja mengamuk, sehingga banyak prajurit kerajaan yang tewas)

Satria                                 :       Cukup……., hentikan Raksasa, Raja sudah tewas, hentikan amukan dan amarahmu.
                                                (teriak Satria, dengan nada cemasnya, karena takut akan banyak korban yang berjatuhahan lagi)

Raksasa                            :     Huaha…….ha….ha….ha, aku tak gentar dengan prajurit seperti kalian, ayo semua maju melawanku.
                                                (Raksasa masih saja mengkibas-kibaskan tangannya yang mengakibatkan jatuhnya korban di sana sini, Raksasa tidak menghiraukan peringatan Satria)

Satria                                 :       Maafkan aku sahabatku, Craap….Jupp !
                                                    (sambil berkata dalam hati, Arya segera melemparkan sebatang tombak ke arah dada kiri Raksasa)


Raksasa                            :       Aw,………..waaah!
                                                (Sambil memegang dadanya, Raksasa  menghembuskan nafasnya yang terakhir, roboh/terkapar dan tewaslah Raksasa  di tengah-tengah lapangan yang penuh dengan korban bergelimpangan)

Satria                                 :       Maafkan aku Raksasa, semua ini aku lakukan adalah hakku melawan dan menghentikan tindakan kekejaman.
                                                (dengan langkah gontai Satria mendekati Raksasa, dengan nada kesedihan dan mengalirlah air mata Satria mengiringi kepergian sahabatnya itu)

Prajurit                             :       (semua prajurit yang tersisa hanya mampu terdiam di tengah-tengah lapanagan memperhatikan Satria melangkah, dan menjauhi arena perang, dan akhirnya sisa-sisa prajurit menyusul Satria dan berlalu. Tinggallah Mayuat-mayat yang tersisa detengah-tengah lapangan)






Tidak ada komentar:

Posting Komentar